SOKSI Usung Sultan Jadi Capres Jakarta - Serikat Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) mengusung Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai calon presiden di ajang Pilpres 2009. Sultan pun disebut-sebut telah menyatakan kesediaannya.
"Sultan kan salah satu tokoh reformasi. Gus Dur sudah, Mega sudah, Sultan belum dapat apa-apa," ujar pendiri dan juga Ketua Dewan Penasehat SOKSI, Suhardiman.
Hal itu disampaikan dia di sela-sela halal bihalal SOKSI dengan tema 'Membahas Perspektif Kebangsaan Lima Tahun ke Depan' di kediamannya, Jalan Keramat Batu nomor 1, Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (8/10/2008).
"SOKSI memproklamirkan, tanggapan Sultan bersedia," imbuh Suhardiman.
Alasan lainnya, kata Suhardiman, Sultan merupakan tokoh masyarakat Jawa. Sultan juga ketua dewan penasehat SOKSI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Menurut pria berkacamata ini, SOKSI belum bekomunikasi dengan Partai Golkar seputar dukungan terhadap Sultan. SOKSI adalah salah satu organisasi underbow partai berlambang pohon beringin itu.
"Ini juga bukan bentuk kekecewaan kepada JK,
" jelasnya.Meskipun nantinya Partai Golkar tidak mencalonkan Sultan, lanjut Suhardiman, tidak menjadi soal.
"Masih banyak partai yang mengusung. Untuk tahu siapa partainya, kita lihat reaksinya setelah deklarasi malam ini," pungkas pria berbatik merah itu.
Sultan sendiri tiba di acara tersebut sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, dia enggan berkomentar apapun terkait dukungan SOKSI itu.
Jakarta - Sri Sultan Hamengku Buwono X didaulat menjadi capres oleh Serikat Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI). Sultan pun meminta SOKSI untuk membantu mewujudkan harapannya.
"Terimakasih telah percaya kepada saya untuk tampil tahun 2009. Kepercayaan ini ada konsekuensinya. Saya harap SOKSI ikut membantu harapan saya, kita harus mampu mengubah strategi masa depan," tutur Sultan.
Hal itu disampaikan dia saat memberikan sambutan di acara halal bihalal SOKSI dengan tema 'Membahas Perspektif Kebangsaan Lima Tahun ke Depan' di kediaman pendiri SOKSI, Suhardiman, di Jl Keramat Batu nomor 1, Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (8/10/2008).
Sultan menganggap masalah terbesar bangsa ini adalah rasa kebangsaan di kalangan warganya. Setelah 63 tahun merdeka, masalah tersebut belum selesai juga.
"Keakuan dan kekamian lebih besar dari pada sumbangan keakuan dan kekamian terhadap bangsa ini," imbuh Sultan.
"Kita tidak boleh mengaku mayoritas atau minoritas," lanjut Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini.
Sultan yang mengenakan batik merah marun ini sedih melihat Amendemen UUD 1945 yang menempatkan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai simbol negara.
"Bhineka tunggal Ika sebagai simbol negara itu sangat menyakitkan. Kenapa Bhineka Tunggal Ika tidak dijadikan strategi integrasi bangsa?" keluhnya. Diakhir sambutannya, Sultan mengatakan perubahan adalah hak rakyat.
"Semoga karena kita tidak tahan, kita ingin berubah, 2009 terjadi perubahan," pungkasnya. |
0 comments:
Post a Comment